Keikutsertaan Indonesia Dalam Berbagai Organisasi Internasional di Era Orde Baru


Keikutsertaan Indonesia Dalam Berbagai Organisasi Internasional di Era Orde Baru - Orde baru merupakan sebuah era di bawah kepemimpinan presiden Soeharto. Era ini merupakan sebuah tatanan perikehidupan rakyat, bangsa, dan negara yang diposisikan pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara utuh dan konsisten. Dalam kepemimpinan rezim Soeharto, Indonesia aktif dalam berbagai aktivitas kelembagaan. Pemerintahan Indonesia di masa ini juga aktif dalam beberapa lembaga internasional, seperti berikut ini.

A. Consultative Group on Indonesia (CGI)

Sebelum pemerintah Indonesia mendapat bantuan dana pembangunan dari Consultative Group on Indonesia (CGI) terlebih dahulu mendapat bantuan dana pembangunan dari Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI). Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) didirikan pada tahun 1967. Tujuannya, memberi bantuan kredit jangka panjang dengan bunga ringan kepada Indonesia untuk biaya pembangunan. Anggota IGGI terdiri atas dua kelompok, diantaranya ialah:

a) Negara-negara kreditor, seperti Inggris, Prancis, Belgia, Italia, Swiss, Jepang, Belanda, Jerman Barat, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada.
b) Badan keuangan dunia baik internasional maupun regional, seperti Bank Dunia (World Bank), Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank), Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund), dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). IGGI berpusat di Den Haag (Belanda). Ketua IGGI dijabat oleh Menteri Kerja Sama Pembangunan Kerajaan Belanda. Bantuan IGGI kepada Indonesia, antara lain berbentuk:

1. bantuan proyek
2. bantuan program
3. bantuan pangan
4. bantuan teknik
5. devisa kredit (devisa yang diperoleh dari pinjaman)
6. grant (sumbangan atau hadiah). Bantuan IGGI kepada Indonesia ini diberikan setiap tahun. Setiap tahun diselenggarakan sidang IGGI untuk membahas dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan Indonesia sebagai dasar pemberian bantuan tahun berikutnya. Bantuan yang berbentuk pinjaman (devisa kredit) bersyarat lunak dengan bunga berkisar 0–3% setahun dengan jangka waktu angsuran berkisar 7–10 tahun.

Bantuan dari IGGI yang digunakan untuk pembangunan proyek-proyek produktif dan kesejahteraan sosial itu, antara lain sebagai berikut:

a) Bantuan teknik, umumnya tidak diterima dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk bantuan tenaga ahli, peralatan laboratorium, dan penelitian.
b) Grant digunakan untuk biaya berbagai macam keperluan pembangunan, misalnya untuk membeli kapal angkutan laut.
c) Devisa kredit dan bantuan pangan digunakan untuk biaya impor barang modal, bahan baku, dan bahan makanan.
d) Bantuan proyek digunakan untuk biaya pembangunan proyek listrik, pembangunan telekomunikasi, pengairan, pendidikan, kesehatan (program KB), dan prasarana lainnya.
e) Bantuan program digunakan untuk biaya penyusunan program pembangunan. Pada tanggal 25 Maret 1992, IGGI bubar sebab Indonesia menolak bantuan Belanda yang dianggap terlalu banyak mengaitkan pinjaman luar negerinya dengan masalah politik di Indonesia. Sebagai penggantinya, pemerintah Indonesia meminta pada Bank Dunia membentuk Consultative Group on Indonesia (CGI).

CGI mengadakan sidang pertama kali di Paris, Prancis tanggal 16 Juli 1992. Sidang dihadiri oleh 18 negara dan 10 lembaga internasional yang dipimpin oleh Bank Dunia. Anggota CGI terdiri atas negara-negara bekas anggota IGGI (kecuali Belanda) dan lembaga-lembaga internasional. Negara anggota CGI itu, antara lain Jepang, Austria, Korea Selatan, Kanada, Amerika Serikat, Italia, Prancis, Spanyol, Jerman, Finlandia,  Inggris, Swedia, Swiss, Norwegia, dan Belgia, dan Selandia Baru. Sedangkan lembaga internasional yang ikut dalam CGI, antara lain World Bank, UNESCO, ADB, UNHCR, UNDP, IAEA, WFP, Mordic Invesment Bank, UNFPA, IFAD, WHO, IDB, FAO, UNICEF, UNIDO, Kuwait Fund, dan ILO, Saudi Fund.

B. Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)

APEC merupakan forum kerja sama ekonomi negara-negara di kawasan Asia dan Pasifik. APEC terbentuk pada bulan Desember 1989 di Canberra, Australia. Gagasan APEC muncul dari Robert Hawke, Perdana Menteri Australia saat itu. Latar belakang terbentuknya APEC adalah perkembangan situasi politik dan ekonomi dunia pada waktu itu yang berubah dengan cepat. Hal ini diikuti dengan kekha- watiran gagalnya perundingan Putaran Uruguay (masalah perdagangan bebas). 

Apabila perdagangan bebas gagal disepakati, diduga akan memicu sikap proteksi dari negara- negara maju. Indonesia, sebagai anggota APEC, mempunyai peranan yang cukup penting. Dalam pertemuan di Seattle, Amerika Serikat (1993), Indonesia ditunjuk sebagai Ketua APEC untuk periode 1994–1995. Sebagai Ketua APEC, Indonesia berhasil menyelenggarakan pertemuan APEC di Bogor pada tanggal 14–15 November 1994 yang dihadiri oleh 18 kepala negara dan kepala pemerintahan negara anggota.
Keikutsertaan Indonesia Dalam Berbagai Organisasi Internasional di Era Orde Baru Keikutsertaan Indonesia Dalam Berbagai Organisasi Internasional di Era Orde Baru Reviewed by Yoga Winando on April 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.