Paragraf Narasi, Ciri, Contoh, & Penjelasan Detail

Paragraf Narasi, Ciri, Contoh, & Penjelasan Detail - Paragraf narasi adalah paragraf yang di dalamnya berisikan penyampaian tentang sesuatu hal berupa pembukaan, runutan kisah, cerita atau pengalaman penulis secara kronologis baik bersifat fiksi ataupun non-fiksi. Paragraf narasi secara umum ditemukan dalam sebuah karya penulisan seperti novel, cerpen, naskah drama, dan, feature.  

Ciri-ciri paragraf narasi :

1. Dalam penulisannya berupa pengalaman pribadi seseorang atau penulisnya sendiri terhadap suatu peristiwa atau kejadian tertentu.
2. Paragraf narasi lebih menunjukkan adanya unsur tindakan, perlakuan, atau perbuatan dari seseorang.
3. Dalam penulisan alur ceritanya disusun secara sistematis dengan kronologi urutan cerita yang terbagi atas bagian orientasi, klimaks, dan resolusi.
4. Di dalamnya terdapat unsur tokoh, konflik, latar, serta sudut pandang pengarang.
5. Pada umumnya terdapat beberapa kalimat langsung di dalam paragraf.

Agar lebih jelas, perhatikan beberapa contoh paragraf narasi berikut beserta penjelasannya !

Contoh 1 :

Pagi-pagi sekali aku dan kakak telah menyiapkan barang dagangan ayah yang akan ia jajakan di teras masjid pusat kota. Ayahku adalah seorang pedagang madu dan obat-obatan herbal. Meskipun ayah berjualan mulai pukul 09.00 wib, namun aku dan kakak harus sudah menyiapkannya ke dalam dus dagangan pagi-pagi sekali. Seusai shalat subuh berjamaah di masjid, kami sudah bergelut dengan barang dagangan ayah dan urusan kami masing-masing. Aku adalah seorang pengusaha property dan kakak bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan di provinsi Lampung. Sebelum ayah berprofesi sebagai pedagang, beliau bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di kota Bandar Lampung. Karena beberapa alasan khusus, ayah memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih untuk menjadi seorang pedagang. Ia bertekad untuk merinstis usaha di bidang perniagaan dengan niat yang kuat, kerja keras, serta usaha yang maksimal. Ayah sangat optimis dengan apa yang ia geluti saat ini, meskipun ia memulai usaha dengan modal seadanya hasil dari patungan aku dan kakak. Ayah berpesan kepada kami, “seperti apapun hidup yang kita jalani, upayakanlah yang terbaik dan jangan melupakan shalat!” Kata-kata beliau kumaknai dengan berbagai persepsi positif yang amat beragam. Aku sangat mengagumi sosok beliau dengan segala prinsip, cara berpikir, serta tindakan elegan yang ia putuskan dalam setiap langkah hidupnya.

Penjelasan :

Pada paragraf di atas menjelaskan tentang situasi dan kondisi di pagi hari dengan rentetan peristiwa yang tersusun secara sitematis. Kronologi cerita diawali dengan sesuatu yang dilakukan oleh subyek (aku dan kakak) hingga penjelasan mengenai apa yang sedang dilakukan serta seperti apa kehidupan yang sedang dijalani oleh subyek lainnya (ayah). Penyusunan alur cerita yang sitematis serta adanya unsur lainnya menunjukkan bahwa paragraf di atas merupakan paragraf narasi. 

Selanjutnya perhatikan paragraf narasi pada contoh 2-3 berikut!

Contoh 2 :

Pada malam itu hujan turun begitu derasnya dengan iringan petir menyambar-nyambar. Aku duduk terdiam di depan perapian berupaya menghangatkan sekujur tubuhku yang kaku kedinginan. Entah mengapa malam ini begitu dingin tak seperti malam-malam biasanya. Perutku termat lapar hingga akal dan pikiran tak mampu bekerja dengan seharusnya. Kukuatkan langkah kaki untuk beranjak ke dapur demi sesuatu yang dapat mengganjal perut yang meronta-ronta ini. sembari berharap seseorang dari sahabat atau kerabat datang membawakan makanan kepadaku yang sebatang kara ini. Sambil meniti langkah menuju dapur, aku teringat kata-kata kakak seminggu yang lalu. Ia berkata, “tunggulah kau di sini, sampai aku pulang membawakan sesuatu yang dapat kita makan sampai sebulan ke depan.” Sungguh aku masih mengingat kata-kata penuh harapan itu. Nyatanya aku masih di sini mengais-ngais tanah berharap ada ubi atau ketela yang tersangkut ujung sabitku. Berharap ada buah yang jatuh dari pepohonan yang kugoyang-goyangkan batang kokohnya. Dalam gubuk tua yang diguyur hujan serta dijilati sambaran petir ini, aku seorang diri dengan penuh harap yang tiada terpenuhi.

Contoh 3 :

Seorang pengelana berjalan tanpa tujuan menapaki jalan searah menuju keramaian di depan mata. Pakaiannya yang compang-camping serta wajah lusuhnya itu menandakan ratusan tapak kaki yang telah ia buat sepanjang perjalanannya. Di dalam sakunya hanya terdapat beberapa keping koin berkarat yang bercampur dengan debu dan kotoran. Pengelana itu amat berharap ada sesuatu yang dapat terbeli dari kepingan koin yang ia miliki di saku celananya. Dari kejauhan ia melihat sebuah kedai kecil yang menjajakan buah-buahan, ubi, dan air. Di sana juga terlihat beberapa pengelana lain yang kondisinya jauh lebih baik dari dirinya. Pengelana lusuh bergumam, “Ya Tuhan, apakah yang dapat ku beli dengan uang koin yang kumiliki ini?” kalaulah ada kulit roti atau ampas ketela yang dapat terbeli dengan ini, aku akan sangat bersyukur pada-Mu.” Seketika pengelana lain memanggil-manggil dirinya dari arah kejauhan. Pengelana lusuh terheran, “ada apakah gerangan?” tanyanya setengah berbisik. Rupanya pengelana dengan kondisi keuangan yang lebih baik itu menawarkan sejumlah buah-buahan serta ubi rebus yang hangat padanya. “Alangkah baiknya saudara ini, sungguh dengan apa aku bisa membalas kebaikan anda?”aku ini hanyalah seorang pengelana miskin tanpa tempat tujuan.” Pengelana budiman itu enggan menjawab sembari menyodorkan sejumlah uang kepada pengelana lusuh dengan senyuman yang indah serta menyejukkan hati.  

Sumber :

http://www.kelasindonesia.com/2015/03/pengertian-contoh-paragraf-narasi-beserta-ciri-dan-jenisnya.html
Paragraf Narasi, Ciri, Contoh, & Penjelasan Detail Paragraf Narasi, Ciri, Contoh, & Penjelasan Detail Reviewed by Ahmad Wibawa on Juli 26, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar